indonesiashippingline.com

Switch to desktop Register Login

Chiefy Adi K. Sekjen ASBUPI : Ada 2 Hal yang Sebabkan Biaya Logistik Nasional Masih Mahal

JAKARTA TANJUNG PRIOK (ISL News) - Sekjen Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ASBUPI), Chiefy Adi K. baru-baru ini didaulat menanggapi Diskusi Nasional bertema “Kenapa Biaya Logistik Nasional Masih Mahal? yang diselenggarakan oleh Media Nasional pada Hari Rabu 4 Agustus 2021, bertempat di Museum Mariitim Indonesia IPC Cabang Tanjung Priok.

Pada kesempatan tersebut, Chiefy menyampaikan bahwa ASBUPI tidak pernah mendikotomi antara Badan Usaha Pelabuhan (BUP) BUMN atau Swasta, karena pada hakekatnya tujuan dan perannya adalah sama, yaitu melayani negeri melalui perannya dalam mengelola pelabuhan secara profesional dalam ekosistem logistik. Untuk itu point pentingnya adalah bagaimana BUP-BUP tersebut bisa berkolaborasi untuk meningkatkan kinerja operasi yang mendukung lancarnya aktivitas logistik dan mampu menurunkan biaya logistik nasional.

Bedanya, kalau BUP BUMN adalah the real public company, 100 % saham dimiliki oleh “rakyat”, melebihi perusahaan terbuka atau Tbk yang melantai di bursa efek yang hanya dimiliki sebagian orang. Sedangkan BUP swasta dimiliki oleh swasta.

Karena BUP BUMN seluruh sahamnya dimiliki oleh “rakyat”, maka perhatian dan ekspektasi “rakyat” sebagai pemilik perusahaan tentunya ingin BUP BUMN itu harus dikelola dengan baik untuk melayani negeri ini dan bisa membuktikan bahwa semua stakeholders terpuaskan. Dan tentunya ekspektasi itu akan menjadi masukan yang berharga bagi BUP BUMN.
Menurut Chiefy ada 2 (dua) hal besar yang bisa dilakukan untuk menurunkan biaya logistik nasional dari perspektif BUP yaitu hal yang tidak bisa kita kontrol dan hal yang bisa kita kontrol.

“Yang pertama, hal yang tidak bisa kita kontrol adalah bagaimana antara keseimbangan volume barang itu berdasarkan supply and demand. Artinya adanya permintaan atau perdagangan terhadap kebutuhan barang. Ada pabrik yang memproduksi barang karena ada permintaan yang semakin banyak. Industrinya harus tumbuh dan merata. Ada permintaan barang kemudian ada transaksi, produksi dan pengiriman. Hal tersebut untuk menambah volume yang bisa menutupi imbalance cargo dari satu tempat ke tempat yang lain (domestik) atau ekspor-impor yang mana itu merupakan tugas bersama sebagai warga negara untuk meningkatkan kualitas produk yang dibutuhkan masyarakat yang mendorong perdagangan sehingga tercipta keseimbangan antara supply and demand,” ujar Chiefy Adi K.

Yang kedua, Lanjut Chiefy, adalah hal yang bisa dikontrol. Ada 7 hal yaitu :
1. Business model, kolaborasi atau public-private partnership dalam mengelola end to end activity ekosistem logistik antar pelaku logistik.
2. Reliable & transparansi tarif (public rate) di area BUP maupun di luar wilayah BUP terkait trucking, gudang, depo, dll untuk semua pelaku ekosistem logistik.
3. Produktivitas/performansi yang ditampilkan oleh para pelaku ekosistem logistik. Hal ini juga terkait dengan investasi alat vs pelayanan (ada fungsi bisnis).
4. Operational excellence yang dilakukan oleh para pelaku ekosistem logistik
5. Safety & Security pelayanan yang diberikan oleh para pelaku ekosistem logistik.
6. People & IT : single submission, connectivity, integrasi.
7. Logistics Ecosystem Culture yang diimplementasikan dari masing-masing values para pelaku ekosistem logistik.

“Ketujuh hal ini menyangkut regulation dan people, leadership, culture. Pada BUMN mempunyai values AKHLAK, Core Values ASN ‘Berakhlak’ dan Employer Branding ASN ‘Bangga Melayani Bangsa’, dan di perusahaan swasta mempunyai valuesnya masing-masing. Apabila tercipta fundamental culture yang tumbuh dari nilai-nilai perusahaan maka semuanya akan tercipta suatu ekosistem logistik yang mampu meningkatkan produktivitas dan menurunkan biaya logistik nasional, “ Pungkas Chiefy Adi K.

(Red. ISL News/email:This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.).  

indonesiashippingline.com (ISL News), islnewstv.com, isl news tv, isl news interaktif adalah merk dagang milik dan diterbitkan oleh PT ISL Media Nasional sejak 2012 di Jakarta (@copyright)

Top Desktop version